Minggu, 25 November 2018

ARSITEKTUR INTERPRETIF


Kritik Interpretif (Interpretive Criticism) yang berarti adalah sebuah kritik yang menafsirkan namun tidak menilai secara judgemental, Kritikus pada jenis ini dipandang sebagai pengamat yang professional. Bentuk kritik cenderung subyektif dan bersifat mempengaruhi pandangan orang lain agar sejalan dengan pandangan kritikus tersebut. Dalam penyajiannya menampilkan sesuatu yang baru atau memandang sesuatu bangunan dari sudut pandang lain.

Tiga meotde kritik interpretif :

1.       Kritik Evokatif (Evocative) (Kritik yang membangkitkan rasa)
Menggugah pemahaman intelektual atas makna yang dikandung pada suatu bangunan. Sehingga kritik ini tidak mengungkap suatu objek itu benar atau salah melainkan pengungkapan pengalaman perasaan akan ruang. Metode ini bisa disampaikan dalam bentuk naratif (tulisan) dan fotografis (gambar).

2.       Kritik Advokatif (Advocatory) (Kritik yang membela, memposisikan diri seolah-olah kita adalah arsitek tersebut.)
Kritik dalam bentuk penghakiman dan mencoba mengarahkan pada suatu topik yang dipandang perlu. Namun bertentangan dalam hal itu kritikus juga membantu melihat manfaat yang telah dihasilkan oleh arsitek sehingga dapat membalikkan dari objek bangunan yang sangat menjemukan menjadi bangunan yang mempersona.

3.       Kritik Impresionis (Imppressionis Criticism) (Kritik dipakai sebagai alat untuk melahirkan karya seni baru).
Kritik ini menggunakan karya seni atau bangunan sebagai dasar bagi pembentukan karya seninya

CONTOH KRITIK INTERPRETIF, MASJID AL-IRSYAD BANDUNG

Masjid Al-Irsyad Kota Baru Parahyangan dimulai pembangunannya pada hari Senin, 7 September 2009 bertepatan dengan 17 Ramadhan 1430 H (Nuzulul Quran), dan diresmikan pada bulan Agustus 2010. Masjid tersebut dibangun di atas lahan seluas 1 Ha yang menjadi satu kesatuan yang tak terpisahkan  dengan Al Irsyad Satya Islamic School (berafiliasi dengan Madrasah Al-Irsyad Al-Islamiyah of Singapore) sebuah sekolah Islam international yang ada di Kota Baru Parahyangan. Bangunan masjid dapat menampung 1500 jamaah. Menurut Ridwan Kamil, arsitek mesjid Al-Irsyad ini, bentuk mesjid berupa kubus sederhana tersebut terinspirasi oleh Ka'bah yang ada di Masjidil Haram. Fasad Masjid ini merupakan susunan concrete block yang membentuk kaligrafi kalimat As-Syahadah.
Masjid Al Irsyad meraih Penghargaan "The Best 5 World Building of The Year 2011 untuk kategori Bangunan Religi, versi Archdaily & Green Leadership Award tahun 2011 dari BCI Asia.


Panorama pegunungan tersebut memperlihatkan superioritas kebesaran alam. Siapa pun yang tengah bermunajat ke hadapan-Nya dan melihat pemandangan tersebut akan merasa sangat kecil sehingga diharapkan manusia agar selalu rendah hati.


Untuk bagian ekteriornya, bentuk masjid sekilas hanya seperti kubus besar layaknya bentuk bangunan Kabah di Masjidil Haram, Arab Saudi. Menurut sang arsitek dalam berbagai media, kubah hanya bagian dari identitas budaya, sehingga beliau lebih memilih untuk menampilkan identitas keislaman melalui kalimat syahadat raksasa. Kalimat ini ditampilkannya melalui susunan bata pembentuk dinding masjid.
Dengan konsep ini, dari luar terlihat garis-garis hitam di sekujur dinding masjid. Jika dicermati, kisi-kisi dinding dengan susunan bata bolong ini membentuk dua kalimat syahadat dalam huruf Arab. Teknik ini menjadikan tubuh bangunan layaknya sebuah seni kaligrafi tiga dimensi dengan ukuran yang sangat besar.


Selain itu, kisi-kisi tersebut berfungsi sebagai penerangan yang bersifat bolak-balik dan sangat artistik. Siang hari, cahaya alami matahari akan menembus ke ruang dalam. Pada momen ini, cahaya tersebut terlihat seperti sebuah elemen digital yang membentuk dua kalimat syahadat. Pada malam hari cahaya dari dalam masjid akan memancar keluar, membentuk kaligrafi syahadat yang berpencar.
Tidak dapat dipungkiri, masjid ini adalah satu mahakarya seni bangunan kontemporer yang mendobrak pakem- pakem tradisi bentuk masjid. Jadi tidak heran masjid ini terkenal sampai belahan dunia dan sang perancangpun berhasil membuat sebuah maha karya besar bagi perkembangan seni arsitek di Indonesia. Disaat bulan Ramadhan seperti saat ini banyak orang dari berbagai daerah yang dengan sengaja untuk singgah ke Masjid Al-Irsyad, beri’tikaf, melakukan ibadah Ramadhan, dan tak lepas dari pengunjung untuk mengabadikan keindahan bangunan masjid sembari berphoto-photo dan menikmati keindahan lingkungan sekitar masjid. Jadi setelah disebutkan beberapa keterangan mengenai Masjid Al-Irsyad tadi, tak ada lagi alasan bagi warga Bandung untuk mengenal dan tau akan keberadaan masjid fenomenal ini

CONTOH KRITIK INTERPREKTIF - EVOKATIF MUSEUM DI TENGAH KEBUN, KEMANG, JAKARTA.
Museum Di Tengah Kebun terletak di Jalan Kemang Timur Raya Nomor 66, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12730. Museum ini memiliki ± 4.000 koleksi benda-benda bersejarah dan antik dari seluruh Indonesia dan mancanegara. Museum Di Tengah Kebun adalah museum pemilik pribadi oleh Sjahrial Djalil, salah satu tokoh periklanan modern Indonesia dan pendiri biro iklan Ad Force Inc, yang berdiri di tengah kebun seluas 3.500 m2

0935494pintu-masukk1780x390.jpg

Tampak Depan Rumah Di Kebun

Gaya arsitektur pada museum ini adalah mirip dengan Rumah Adat Betawi yaitu Rumah Kebaya. Sebelum memasuki area bangunan museum, pengunjung dimanjakan jalan masuk dengan tiap sisinya dikelilingi oleh pagar tanaman tinggi yang menciptakan suasana asri dan sejuk seperti bukan di tengah Kota Jakarta. Terdapat banyak jenis pohon tinggi nan rimbun sehingga semakin membuat suasana seperti di pedesaan.

241772_museum-di-tengah-kebun_663_382.jpg
Jalan Masuk

Museum ini memiliki bangunan utama yang didalamnya terdapat banyak benda koleksi dari si pemilik yang memang sangat menyukai benda antik. Suasana interior pun tidak kalah asri dengan di luar bangunan museum. Setiap ruangan yang diisi oleh koleksi Sjahrial Djalil, memiliki konsep dan tema berbeda. Seperti pada Ruang Majapahit yang didesain bergaya Jawa Tengah, dengan furnitur terbuat dari kayu, semakin menambah kesan bersejarah dan tradisional.

1002560ruang-majapahitt780x390.jpg
Ruang Majapahit
Suasana yang berbeda juga didapat di Ruang Keluarga yang mengusung konsep furnitur penggabungan dari 3 kultur yaitu Eropa, Cina, dan Jawa yang semakin menciptakan suasana seperti di sebuah villa di tengah gunung. Nuansa hangat, nyaman, dan akrab ditimbulkan oleh ruangan ini, semakin membuat pengunjung betah untuk berlama – lama duduk di ruangan ini.
Kombinasi-Furnitur-3-Negara-di-Ruang-Keluarga.jpg
Ruang Keluarga
Selain ruangan – ruangan berkesan hangat dan nyaman diatas, halaman belakang museum ini pun didesain sangat sejuk seperti pengunjung berada di sebuah villa luas di pegunungan. Terdapat pendopo di tengah halaman untuk bersantai atau hanya sekedar duduk – duduk menikmati pemandangan halaman museum yang luas dan hijau.
museum-di-tengah-kebun.jpg

Halaman Belakang
koleksi musem tengah kebun_ (3).jpg

Halaman Belakang
refrensi : 
https://finifio.wordpress.com/2015/11/03/kritik-interpretatif-arsitektur/
http://asep-inars.blogspot.com/2014/01/kritik-arsitektur-soft-skill.html

Jumat, 26 Oktober 2018

ANALOGI ARSITEKTUR

Analogi adalah salah satu pendekatan bentuk yang digunakan dalam desain arsitektur. Dalam bukunya, Design in Architecture, Geoffrey Broadbent mengatakan bahwa “mekanisme sentral dalam menerjemahkan analisa-analisa ke dalam sintesa adalah analogi”. Pernyataan ini maksudnya adalah bahwa pendekatan analogi bukan hanya sekedar menjiplak bentuk objek alam yang dianalogikan, tapi diperlukan proses-proses analisis dan merangkainya sehingga menghasilkan bentuk baru yang masih memeiliki kemiripan visual dengan objek yang dianalogikan. 

Suatu pendekatan analogi dikatakan berhasil apabila pesan yang ingin disampaikan atau objek yang dianalogikannya dapat dipahami oleh semua orang. Oleh karena itu, harus terdapat benang merah antara bangunan dan objek yang dianalogikannya dalam proporsi tertentu sehingga tidak menjadi terlalu naïf seperti menjiplak secara mentah-mentah.

Hal yang penting dalam analogi adalah persamaan antara bangunan dengan objek yang dianalogikan. Persamaan di sini bukan berarti benar-benar serupa dengan objek dan hanya diperbesar ukurannya saja, tetapi yang dimaksudkan adalah persamaan berupa pesan yang disampaikan. Oleh sebab itu, analogi menjadi sangat berharga karena sifatnya yang sangat personal, berarti dapat dipahami oleh setiap orang. Dalam buku Design in Architecture karya Broadbent, pendekatan analogi dibagi ke dalam tiga macam, yaitu analogi personal, analogi langsung, dan analogi simbolik.

ANALOGI BIOLOGIS

proses analogi arsitektur yang menganggap bahwa membangun adalah proses biologis bukan proses estetis. dengan arti yang lebih luas dalam merancang menggunakan pendekatan analogi biologis maka arsitek tersebut lebih mengedepankan proses pembangunannya terhadap fungsi dan keadaan serta keberadaan bangunan teresebut terhadap lingkungan sekitar dari pada mengedepankan keindahan bentuk bangunan.

Analogi biologis terbagi 2 :

1. Analogi organik adalah memusatkan perhatian pada hubungan antara bagian-bagian bangunan atau antara bangunan dan lingkungannya. kata organik menunjukan keterpaduan secara keseluruhan dari semu bagian 

Hasil gambar untuk falling water house 

contoh bangunan analogi biologis (organik) : failing water house 
lokasi failing water house : Mill run, pennsylvania, USA

dibangun pada konsevasi hutan, dahulunya bangunan ini merupakan rumah akhir minggu bagi keluarga kauffman untuk relaksasi. namun sejak tahun 1963 kauffman jr, telah mendonasikan hunian ini kepada organisasi nirlaba westrn pennsylvania conservancy. 

2. Analogi biomorfik adalah memusatkan perhatian pada proses-proses pertumbuhan dan kemampuan bergerak yang berkaitan dengan organisme-organisme.

Hasil gambar untuk eden multiple greenhouse

contoh bangunan analogi biologis (biomorfik) : Eden Multiple Green House
lokasi Eden Multiple Green House : cornwall, inggris

komplek rumah kaca ini merupakan sebuah terobosan baru dalam dunia botani, dengan menggunakan material polymer sebagai pengganti kaca, maka rumah kaca ini tidak memberikan efek rumah kaca yang dapat memperburuk pemanasan global.

ANALOGI PERSONAL 

Analogi secara personal berarti sang arsitek membayangkan dirinya sendiri sebagai bagian dari permasalahan dalam desain arsitektur. Contohnya apabila ia (arsitek) membayangkan dirinya sebagai bangunan yang menghadap ke suatu arah tertentu, bagaimana cahaya matahari yang diterimanya. Apabila ia merupakan sebuah balok, berapa banyak beban atau tekanan yang akan diterima. Apabila ia berada di tanah miring dan membaringkan diri, bagaimana cahaya matahari yang diterimanya dan bagaimana aliran angin yang melewatinya.

Hasil gambar untuk eiffel tower 

contoh banguan analogi personal : Menara Eiffel
lokasi Menara Eiffel : paris, prancis

Menara Eiffel menggunakan pendekatan analogi dimana sosok yang dipakai adalah wanita yang feminim dan elegan. Bagaimana seorang wanita anggun berdiri, bagaimana bentuk tubuhnya yang elegan

ANALOGI LANGSUNG

Analogi langsung merupakan analogi yang paling mudah dipahami oleh orang lain. Dalam analogi ini, arsitek menyelesaikan permasalahan dalam desain dengan fakta-fakta dari beragai cabang ilmu lain yang sudah diketahui umum,

bird nest stadium

contoh bangunan analogi langsung : Bird Nest Stadium
lokasi Bird Nest Stadium : Beijing China

Bird Nest Stadium dibangun oleh sang arsitek berdasarkan inspirasinya kepada bentuk sarang burung, maka dari itu penamaan satdium ini sendiri mengadopsi kata bird nest. analogi dari sarang burung ini terlihat tidak hanya dari segi estetis eksteriornya saja, akan tetapi juga pada sistem struktural yang dapat terlihat dari luar bangunan. seluruh struktur yang terlihat bagian luar ini merefleksikan cabang sarang yang menyatu satu sama lain sehingga menghasilkan ketahanan yang luar biasa pada setiap elemen bangunannya.  

ANALOGI SIMBOLIK

Pada analogi simbolik, arsitek menyelesaikan permasalahan dalam desain dengan memasukkan makna tertentu secara tersirat. Analogi ini merupakan bentuk analogi secara tidak langsung. Unsur-unsur yang dimasukkan dapat berupa perlambangan terhadap sesuatu, mitologi lokal, atau simbol lainnya.

Montjuic Communication Tower

contoh bangunan analogi simbolik : Montjuic Communication Tower
lokasi Montjuic Communication Tower : Barcelona, Spanyol

Menara Komunikasi Montjuic (Torre Telefonica) merupakan sebuah menara telekomunikasi didaerah Montjuic di Barcelona, Spanyol. Montjuic sendiri adalah sebuah area olimpiade, dimana Torre Telefonica ini berfungsi sebagai pengirim siaran televisi Olimpiade Musim Panas 1992. Dan karena site dan fungsinya, Santiago Calatrava sebagai arsitek perancangnya, menganalogikannya seperti gambaran seorang atlet memegang Obor Olimpiade.

Menara ini menggunakan pentransformasian sebuah bentuk alam dengan representasi simbolik. Sehingga sekarang menara ini lebih tergambar sebagai monumen olimpiade daripada fungsi aslinya sebagai menara telekomunikasi. Selain itu, representasi simbolik lainnya adalah menara ini juga berfungsi sebagai jam matahari besar, yang menggunakan taman Eropa untuk menandai waktu.


Refrensi : 

https://flanel4world.files.wordpress.com/2015/05/broadbent-pendekatan-analogi.pdf
https://rumahlia.com/desain/contoh-bangunan-analogihttp://www.academia.edu/16758365/ANALOGI_BIOLOGIS_DALAM_PERANCANGAN_ARSITEKTUR  


Kamis, 12 Juli 2018

DESA NAMSANGOL HANOK, M Tri Aryadi


Namsangol Hanok Village atau dalam bahasa Indonesia yang artinya Kampung Hanok Gunung Nam merupakan daerah perkampungan yang terdiri dari beberapa rumah tradisional Korea yang didirikan di kaki Gunung Nam. Kampung ini didirikan sebagai objek wisata baru pada tahun 1998 dan untuk memperingati ulang tahun kota Seoulyang ke-600 tahun. Kampung ini memiliki luas keseluruhan 8000 m persegi.

Namsangol Hanok Village terletak di area Pil-doing, di sebelah utara kaki gunung Namsan. Selama Dinasti Joseon, tempat ini dijadikan resort musim panas dan tempat bermain. Untuk memperoleh gambaran tentang kehidupan Leluhur Korea, maka dipindahkan 5 rumah tradisional ke kawasan ini. Rumah-rumah ini menggambarkan jenis perlengkapan dan peralatan yang dipergunakan berdasarkan status sosial orang yang menghuninya.

Lima hanok (sebutan bagi rumah tradisional Korea) di tempat ini mencerminkan strata sosial dari pemiliki rumah yang terdiri dari berbagai lapisan masyarakat, dari kelas menengah hingga kelas atas. Pengunjung dapat melihat bentuk rumah dari tokoh-tokoh penting di masa pemerintahan Joseon, seperti rumah orang tua Ratu Yun, pendamping Raja Sunjong, rumah mertua dari raja Sunjong, rumah Yeonghyo anak dari raja Cheoldong, rumah Lee Seungeop, arsitektur kerajaan dan rumah Kim Chunyeong, seorang pejabat militer.

Di antara kelima hanok yang ada, hanok yang merepresentasikan kediaman orang tua Ratu Yun merupakan hanok yang paling indah. Hanok ini berbentuk persegi panjang, dengan halaman yang berpusat di tengah rumah. Ruang utama dari hanok adalah Sarangchae yang biasanya digunakan untuk menyambut tamu. Anchae merupakan istilah bagi kamar tempat nyonya rumah tinggal dan Daemunganchae yang berarti bagian dalam dari pintu gerbang utama dari rumah tersebut. Salah satu fitur khusus yang terdapat di hanok adalah sebuah pintu yang dirancang menjadi pembatas dari kamar-kamar yang ada. Pintu ini memungkinkan untuk menggabungkan kamar-kamar yang ada di rumah tersebut menjadi satu ruangan yang besar dan bisa memuat banyak orang.

Description: Namsan Hanok Village 

Di luar bangunan rumah, terdapat kios oleh-oleh di mana anda bisa membeli suvenir tradisional Korea, berupa barang-barang vintage yang unik. Anda juga bisa mencoba teh khas Korea dan jika beruntung, bisa mengikuti upacara minum teh di tempat ini. Di halaman, anda akan menemukan beberapa permainan tradisional, seperti neolttwigi (melompat-lompat ),Tuho (panahan) dan Yunnori (permainan tongkat kayu).

Namsangol Hanok Village kita tidak hanya belajar tentang arsitektur rumah tradisional ini namun juga tentang orientasi arsitektur, tata letak, dan gaya penataan furniture pada masa itu. Berbagai tembikar, kerajinan dan alat musik tradisional seperti Gayageum (kecapi dengan 12 senar) dan Geomungo (sitar dengan 6 senar) dapat lihat Anda disini. Oya, dikawasan ini juga terdapat kapsul waktu yang dikubur pada 29 November 1994. Berisi 600 item yang mewakili kehidupan dan budaya dari warga Seoul yang akan kembali dibuka 400 tahun kemudian.

Description: Hasil gambar untuk namsangol hanok village


KEGIATAN DI DESA NAMSANGOL

Pada Musim gugur , Desa Namsangol Hanok (rumah tradisional) telah menyiapkan berbagai program budaya tradisional. Pada akhir pekan September sampai Oktober, Desa akan menyajikan "Pertunjukkan Seni Tradisional Namsangol" yang menampilkan musik perkusi tradisional dan tari topeng singa di siang hari, serta "Namsangol Arts Night" yang menampilkan musik tradisional dan pansori (aria Korea) di malam hari. Kemudian, selama Chuseok (Korean Thanksgiving), Desa akan mengadakan festival makanan menawarkan seperti SONGPYEON (kue beras berbentuk setengah bulan), padi-kue menggunakan palu beras-kue, dan pembuatan makanan ritual leluhur. Program lain meliputi pertunjukan musik dan tari tradisional, demonstrasi upacara pernikahan tradisional, kerajinan jerami, dan pameran seni.

Rumah Tradisional Namsangol Hanok Village

1.Carpenter Yi Seungeop’s House in Samgak-dong
Rumah ini dibangun oleh Mr. Yi Seungeop (Ahli Carpenter) salah seorang yang ikut membangun kembali Istana Gyeongbokgung pada akhir tahun 1860 an (1865-1868). Rumah ini aslinya terletak di Cheonggyecheon 36-2 Samgak-dong, Jung-gu, Seoul.

2.Gim Chunyeong’s Haouse in Samcheong-dong
Rumah ini dibangun pada tahun 1890 an dan Gim Chunyeong yang merupakan Owijang pada akhir periode Dinasti Joseon tinggal disini. Rumah ini aslinya terletak di 125-1 Samcheong-dong, Jongno-gu, Seoul.

3. Min Family’s House in Gwanhun-dong
Rumah ini merupakan rumah asli milik Min Yeonghwi (1852-1935). Rumah ini aslinya terletak di 30-1, Gwanhun-dong, Jongno-gu, Seoul. Rumah ini terdiri dari beberapa bangunan.

4.  Yun Taekyeong’s Jaesil in Jegi-dong
Rumah ini dianggap telah  dibangun oleh Mertua Kaisar Sunjong, Haepung Buwongun Yun Taekyeong, ketika putrinya Permaisuri Sunjeong (1874-1926) menjadi putri mahkota pada tahun 1906 dan menempati tempat tersebut selama beberapa tahun. Tempat aslinya terletak di 224, Jegi-dong, Dongdaemun-gu, dan dipindahkan ke lokasi ini pada tahun 1998 ketika Namsangil Hanok Village ini dibangun.

5. Yun Family’s House in Ogin-dong
Rumah ini adalah replika dari rumah yang terletak di 47-133 Ogin-dong, yang dipercaya telah dibangun pada tahun 1910. Rumah ini milik Yun Deokyeong, paman dari Permaisuri Sunjeongyo (1894-1966), istri dari Kaisar Sunjong.  Sebenarnya rumah aslinya sudah diusahakan untuk dipindahkan ke kawasan Namsangol Hanok Village, akan tetapi rumah tersebut sudah terlalu tua dan beriko hancur jika dipindahkan. Replika rumah ini dibangun dibwah pengawasan yang ketat untuk memasitkan bahwa hasilnya sama seperti bentuk aslinya

6.Traditional Creft Exhibition Hall
Tempat ini merupakan tempat dipamerkannya kerajinan tradisonal Korea berupa boneka kerta Korea. Semua produk disini untuk dijual.

7.Seoul Millennium Time Capsule
Untuk merayakan ulang tahun 600 tahun pengangkatan Seoul sebagai ibu kota Korea, 600 item yang mewakili Seoul dan kehidupan warganya terkubur dalam kapsul, dijadwalkan pada 29 November 2394 kapsul tersebut akan terbuka, dimana akan menjadi perayaan ke 1000 tahun pengangkatan Seoul sebagai ibu kota negara.

8.Seoul Namsan Gugakdang
Teater ini khusus untuk pertunjukan Pertunjukan Gugak (musik tadisional Korea). Suara Gugak ini merupakan suara alami dari rumah tradisional. Pertunjukan ini meliputi pembelajaran kebudayaan tradisional dan program lainnya yang ada di Korea.

9.Namsangol Traditional Garden
Terkenal dengan keindahan alaminya, leluruh mereka membangun sebuah tempat diantara lembah dan menikmati puisi dan lukisan disini. Lanskap disini  dikembalikan ke bentuk aslinya dan tanaman asli ditanam disini. Lembah, tempat dan kolam juga dikembalikan untuk membuat taman dengan gaya tradisional.


Senin, 28 Mei 2018

NAMSANGOL HANOK VILLAGE


Namsangol Hanok Village atau dalam bahasa Indonesia yang artinya Kampung Hanok Gunung Nam merupakan daerah perkampungan yang terdiri dari beberapa rumah tradisional Korea yang didirikan di kaki Gunung Nam. Kampung ini didirikan sebagai objek wisata baru pada tahun 1998 dan untuk memperingati ulang tahun kota Seoulyang ke-600 tahun. Kampung ini memiliki luas keseluruhan 8000 m persegi.

Kehidupan yang serba modern ternyata membuat orang selalu rindu pada hal-hal yang tradisional. kita dapat mengobati kerinduan pada kehidupan masa lalu Korea di Namsangol Hanok Village yang terletak di Seoul. Dari kejauhan tempat ini cukup unik karena bersaing dengan bangunan gedung-gedung tinggi dengan arsitektur masa kini

Hanok Village terletak di area Pil-doing, di sebelah utara kaki gunung Namsan. Selama Dinasti Joseon, tempat ini dijadikan resort musim panas dan tempat bermain. Untuk memperoleh gambaran tentang kehidupan Leluhur Korea, maka dipindahkan 5 rumah tradisional ke kawasan ini. Rumah-rumah ini menggambarkan jenis perlengkapan dan peralatan yang dipergunakan berdasarkan status sosial orang yang menghuninya.

Di saat kita mengunjungi Namsangol Hanok Village, begitu memasuki gerbang depan, kita akan disuguhi sebuah pemandangan lembah yang luas. Di bagian samping, kita akan melihat rumah-rumah tradisional tersebut. Pada masa Dinasti Joseon, rumah-rumah itu milik orang-orang dari berbagai kalangan mulai raja hingga petani. Kondisi asli rumah ini membantu kita untuk memahami bagaimana kehidupan mereka sehari-sehari pada saat itu. Menariknya di salah satu rumah tradisional itu, kita bisa minum teh tradisional sama persis seperti tatanan dan rasa teh pada ratusan abad silam. Kita juga bisa menengok dapur dan beberapa gentong yang digunakan untuk memasak Kimchi, salah satu makanan tradisional Korea Selatan. Kamar tidur dan kamar belajar masyarakat pada masa itu juga bisa kita lihat di rumah tradisional ini. Jika kita ingin mempunyai barang-barang seperti yang dipamerkan dalam rumah-rumah tersebut, kita bisa mampir ke pameran yang ada di kawasan ini. kita bisa membeli souvenir, seperti piring dan teh tradisional. kita juga bisa mencoba beberapa permainan tradisional Korea seperti Tuho (panahan) dan Yunnori (permainan tongkat kayu). Jangan lupa untuk melihat upacara perkawinan tradisional yang biasanya dihelat di Namsangol Hanok Village. kita bisa berfoto bersama mempelai sebagai kenang-kenangan.

Namsangol Hanok Village kita tidak hanya belajar tentang arsitektur rumah tradisional ini namun juga tentang orientasi arsitektur, tata letak, dan gaya penataan furniture pada masa itu. Berbagai tembikar, kerajinan dan alat musik tradisional seperti Gayageum (kecapi dengan 12 senar) dan Geomungo (sitar dengan 6 senar) dapat lihat Anda disini. Oya, dikawasan ini juga terdapat kapsul waktu yang dikubur pada 29 November 1994. Berisi 600 item yang mewakili kehidupan dan budaya dari warga Seoul yang akan kembali dibuka 400 tahun kemudian.

Rumah Tradisional Namsangol Hanok Village

1.Carpenter Yi Seungeop’s House in Samgak-dong
Rumah ini dibangun oleh Mr. Yi Seungeop (Ahli Carpenter) salah seorang yang ikut membangun kembali Istana Gyeongbokgung pada akhir tahun 1860 an (1865-1868). Rumah ini aslinya terletak di Cheonggyecheon 36-2 Samgak-dong, Jung-gu, Seoul.

2.Gim Chunyeong’s Haouse in Samcheong-dong
Rumah ini dibangun pada tahun 1890 an dan Gim Chunyeong yang merupakan Owijang pada akhir periode Dinasti Joseon tinggal disini. Rumah ini aslinya terletak di 125-1 Samcheong-dong, Jongno-gu, Seoul.

3. Min Family’s House in Gwanhun-dong
Rumah ini merupakan rumah asli milik Min Yeonghwi (1852-1935). Rumah ini aslinya terletak di 30-1, Gwanhun-dong, Jongno-gu, Seoul. Rumah ini terdiri dari beberapa bangunan.

4.  Yun Taekyeong’s Jaesil in Jegi-dong
Rumah ini dianggap telah  dibangun oleh Mertua Kaisar Sunjong, Haepung Buwongun Yun Taekyeong, ketika putrinya Permaisuri Sunjeong (1874-1926) menjadi putri mahkota pada tahun 1906 dan menempati tempat tersebut selama beberapa tahun. Tempat aslinya terletak di 224, Jegi-dong, Dongdaemun-gu, dan dipindahkan ke lokasi ini pada tahun 1998 ketika Namsangil Hanok Village ini dibangun.

5. Yun Family’s House in Ogin-dong
Rumah ini adalah replika dari rumah yang terletak di 47-133 Ogin-dong, yang dipercaya telah dibangun pada tahun 1910. Rumah ini milik Yun Deokyeong, paman dari Permaisuri Sunjeongyo (1894-1966), istri dari Kaisar Sunjong.  Sebenarnya rumah aslinya sudah diusahakan untuk dipindahkan ke kawasan Namsangol Hanok Village, akan tetapi rumah tersebut sudah terlalu tua dan beriko hancur jika dipindahkan. Replika rumah ini dibangun dibwah pengawasan yang ketat untuk memasitkan bahwa hasilnya sama seperti bentuk aslinya.

Traditional Creft Exhibition Hall
Tempat ini merupakan tempat dipamerkannya kerajinan tradisonal Korea berupa boneka kerta Korea. Semua produk disini untuk dijual.

Seoul Millennium Time Capsule
Untuk merayakan ulang tahun 600 tahun pengangkatan Seoul sebagai ibu kota Korea, 600 item yang mewakili Seoul dan kehidupan warganya terkubur dalam kapsul, dijadwalkan pada 29 November 2394 kapsul tersebut akan terbuka, dimana akan menjadi perayaan ke 1000 tahun pengangkatan Seoul sebagai ibu kota negara.

Seoul Namsan Gugakdang
Teater ini khusus untuk pertunjukan Pertunjukan Gugak (musik tadisional Korea). Suara Gugak ini merupakan suara alami dari rumah tradisional. Pertunjukan ini meliputi pembelajaran kebudayaan tradisional dan program lainnya yang ada di Korea.

Namsangol Traditional Garden
Terkenal dengan keindahan alaminya, leluruh mereka membangun sebuah tempat diantara lembah dan menikmati puisi dan lukisan disini. Lanskap disini  dikembalikan ke bentuk aslinya dan tanaman asli ditanam disini. Lembah, tempat dan kolam juga dikembalikan untuk membuat taman dengan gaya tradisional.

Biaya dan Jam Operasional
Ditempat ini tidak ada biaya masuk alias gratis, buka pukul 09.00-18.00 pada bulan November sampai Maret. Sedangkan pada Juni hingga Agustus buka dari jam 09.00 hingga 20.00. Untuk bulan April hingga Mei dan September sampai Oktober, Namsangol Hanok Village buka dari pukul 09.00-19.00 waktu setempat. Khusus pada hari Selasa tempat ini tutup.